Kamis, 16 Juni 2011

PERCAYA

Rata2 dasar pembentukan "kebiasaan" manusia = dari umur 0 s/d 12 tahun.
adalah masa tanggung jawab penuh pendidikan orangtua ke anak.
apa2 yang di"percaya" orangtua akan dipercaya juga sama anaknya di jarak umur itu.

setelah umur (rata2) 12 tahun itu masa proses manusia "mulai mempertanyakan" apa2 yg dipercayanya. anak pasti akan mempertanyakan segala sesuatu ke orangtuanya duluan.
MASALAHNYA, "bisa gak" si orangtua jawab pertanyaan2 si anak?

pertanyaan2 yg "gak bisa" dijawab orangtua atau yg "gak memuaskan" gak akan 'ting' ilang dari pikiran si anak yg emang sedang di masanya berkembang. si anak pasti akan coba cari jawaban dari pertanyaan2 itu ke lingkungan di "LUAR RUMAH".
maka adalah TERGANTUNG gimana lingkungan yg dia temu'in di luar rumah.

diri manusia (nafs) punya 2 kebutuhan psikologis mendasar yg akan selalu dikejar seumur hidup, yaitu KETENANGAN & KEBAHAGIAAN.

banyak manusia yg "gak punya kamus" buat terjemahin arti dari 2 kata ketenangan & kebahagiaan ini. adalah mereka pilih jalan pintas mengartikan sendiri jadi KENYAMANAN & KEPUASAN.
maka kebutuhan akan tenang & bahagia yg selalu dikejar itu diganti nyaman & puas = apapun yg dicari adalah yg sekiranya bisa bikin dia NYAMAN, dan makanya gak pernah bisa PUAS.
sampe sini kita bisa liat, bahwa kebanyakan manusia "SALAH PAHAM" gak bisa beda'in yg mana kebutuhan dan yg mana KEINGINAN.

remaja = masa ringkih pembentukan pola fikir manusia. gak ada yg bisa sangkal ini.
pertanyaan2 tentang tradisi yg gak bisa dijawab orangtua > berubah jadi "BATASAN" atau penjara bagi perkembangan otak.
karena cuma akan bisa jadi doktrin kosong atau dogma = keyakinan yg sekedar harus diturutin aja, haram untuk dipertanyakan.

maka si remaja pasti akan ketemu jawaban dari pertanyaan2 itu yg bersifat "SENSASIONAL" buat dia (di luar rumah). sensasi dari jawaban2 itu cenderung akan bikin dia terpukau dan penasaran. (awal manusia bisa ini-itu = krn awalnya penasaran).
jawaban sensasional itu bisa bikin dia lebih "nyaman" dari gelisah batasan/penjara di rumahnya, dan bisa bikin dia "puas" krn dianggap keberadaannya.

maka pelan2 dia berubah jadi > lebih PERCAYA ke prinsip2 yg menurutnya bisa kasih kenyamanan & kepuasan, yg dia KIRA adalah ketenangan & kebahagiaan.
prinsip2 yg dipercaya akan bisa jawab semua pertanyaan2 dia > sampe dia dewasa, dan jadi orang yg TAMPUNG PELARIAN alias panutan remaja yg sama kaya dia dulu.

------------------------------------------------


Rata2 dasar pembentukan "kebiasaan" manusia = dari umur 0 s/d 12 tahun.
adalah masa tanggung jawab penuh pendidikan orangtua ke anak. sbelum aqil-baligh.
apa2 yang di"percaya" orangtua akan dipercaya juga sama anaknya di jarak umur itu. salah satunya = AGAMA.

MASALAHNYA, "bisa gak" si orangtua jawab pertanyaan2 si anak tentang agama?

"Pak, ko' saya gak shalat gak apa2? gak ada kejadian buruk?"
"Bapak tau dari mana abis mati nanti ada surga-neraka?"
"Emangnya al-Qur'an itu tulisan siapa?"
"Emang isi al- Qur'an itu apa aja sih pak?" (nah lho)
"Ko' bapak yakin banget al-Qur'an itu bukan cuma karangan Rasulullah (SAW)?" (lebih nah lho lagi)

jawaban gak memuaskan?
...pelan2 dia berubah jadi > lebih PERCAYA ke prinsip2 yg menurutnya bisa kasih kenyamanan & kepuasan, yg dia KIRA adalah ketenangan & kebahagiaan.

...lebih
"PERCAYA"
pada prinsip2 yg menurut dia bisa kasih ketenangan & kebahagiaan.

KEPERCAYAAN = KEYAKINAN = FAITH = IMAN

------------------------------------------------

kalo kita baca lagi pelan2 semua tulisan di atas:
SEMUA MANUSIA BERIMAN.

sebagian PERCAYA ke agama,
sebagian lain PERCAYA "bahwa" agama itu kebohongan.

sebagian PERCAYA ke prinsip2 yg punya hukum tertulis & pasti.
sebagian lain PERCAYA ke prinsip2 yg hukumnya gak pasti, SELALU BERUBAH, dipugar terus sepanjang waktu. sesuai dengan "kebutuhan" para penganutnya, yg bisa jadi ternyata adalah sebatas "keinginan".

kalo dasar hukum dasar anti agama ini adalah KEBEBASAN, cek lagi, hampir gak ada bedanya antara "bebas atas hak" sama "bebas berhak ngapain aja".
kalo udah begini, udah pasti pemugaran2 hukum tadi berdasarkan keinginan, kenyamanan, kepuasan = prinsip2 yg ringkih, labil, gak stabil... makanya selalu berubah.


muncul 2 pertanyaan penting:
apakah krn kita kecewa atas keterbatasan orangtua yg gak bisa jawab pertanyaan2 "tentang agama" bikin kita BERHAK kecewa SEKALIAN KE agama juga?
yg lemah si orangtua ATAU agama?

terus muncul lagi deh 1 pertanyaan lebih penting:
apa kita BERHAK bilang agama itu KEBOHONGAN kalo kita "GAK PERNAH" atau "SEKEDAR AJA" cari tau apa yg diajarkan agama?


astaghfirullah...
MOGerz, orangtua kita berusaha semampunya kasih apapun yg mereka punya ke anak2nya..
mereka mungkin se-sempurna yg kita harapkan..

tapi kita itung lagi,
berapa ember keringat yg udah keluar dari bapak kita buat kita bisa sekolah?
berapa pikiran yg diperas dari kepala bapak kita buat kasih kita jajan?
ibu... apa kita bisa bayar balikin lagi ASI yg kita konsumsi dulu?


ujung2nya,
kalo kita BILANG agama = kebohongan cuma krn supaya bisa enak bebas ngapain aja... berarti SIAPA yg sedang bohong?
siapa yg sedang jelek2in sesuatu tanpa pengetahuan?

ALLAH Maha Tahu.

------------------------------------------------
topik ini gak berlaku buat yg orangtuanya (ma'af) emang gak percaya/ragu sama agama.

0 komentar: